Hujan, Kau dan Cokelat untuk Perkenalan

Bogor “kota hujan” itulah sebutannya. Kini  Indah berdiri didepan halte untuk menunggu bus yang sering ia tumpangi untuk pulang ditemani dengan gemericik suara hujan di pinggir jalan. Sekilas bahu kanannya telah basah akibat perbuatan hujan itu yang tanpa malu menempel pada bajunya.

“Haah .. lagi-lagi hujan”

Entah sudah berapa kali gadis cantik itu menghela nafas bosan untuk sesuatu yang dialaminya. Yah, hujan .. dia berpikir apakah hujan tidak lelah terus-menerus datang hampir setiap hari?
Apakah hujan tidak sakit karena sudah jatuh berkali-kali tetapi tak ada yang peduli?
Konyol! Itulah yang ada dipikiran indah sekarang, bagaimana mungkin dia memikirkan pertanyaan yang tidak masuk akal itu. Dia hanya merasa jengkel dengan keadaan dimana dia harus pulang dengan baju sedikit basah dan bertahan lebih lama dihalte ini untuk menunggu bus dengan suhu udara kota bogor yang terkenal dingin. Tiba-tiba bus yang ingin ia tumpangi datang, akan tetapi entah karena hujan atau hari ini memang ia sedang sial, bus yang ditumpanginya penuh.
Ia menghela nafas panjang ” Hah .. sepertinya aku harus menunggu bus selanjutnya.”
Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 5 sore. Tiba- tiba sebuah klakson mobil yang memekakkan telinga membuatnya menoleh, ia terkejut karena terkena cipratan air akibat ulah si mobil yang melaju kencang melewati halte itu. Lagi-lagi hujan, indah terus menyalahkan kedatangan hujan. Coba saja kalau hari ini tidak hujan pasti bus yang akan ia tumpangi tidak penuh sesak oleh orang2 yang ingin menghindari hujan, coba kalau tidak hujan, mungkin tidak akan ada genangan air didepan halte bus dan tak akan bermasalah walaupun mobil itu tetap melaju kencang.
Terdengar suara motor matic dimatikan disebelahku, aku menoleh mendapati pemuda yang sepertinya memakai seragam yang sama denganku. Aku memperhatikan wajahnya dengan seksama, oh ya ampun ternyata ia adalah kakak kelas populerku di sekolah. Ia menoleh ke arahku sehingga membuatku salah tingkah.
“Kamu murid doa bangsa juga?”
“Ia kak” gugup aku menjawab pertanyaannya. Aku tak pernah membayangkan akan terjebak dalam situasi seperti ini.
“Sepertinya hujannya akan lama, kamu tidak kedinginan?”
“E e enggak ka, aku baik ko”
“Hah .. bagaimana kamu bisa baik kalau baju kamu basah kuyup seperti itu.”
Indah hanya tersenyum malu menanggapi perkataan kakak kelasnya itu. Tanpa disadarinya tubuh indah sudah terbalut jaket kulit cokelat milik kakak kelasnya itu. Indah menoleh bingung,
“Eh, kenapa kakak kasih ke indah?”
“Kamu kedinginan, nanti sakit.” Sambil tersenyum mengusap poni rata indah.
Indah hanya melongo manampilkan wajah bodohnya hingga ia tersadar dengan tingkah konyolnya itu.
“Emm .. makasih ka.” Indah tersipu malu.
Kakak kelasnya hanya menampilkan samar yang membuat indah terpana.
Hujan semakin deras hingga tanpa mereka sadari telah berdiri lama dalam keheningan yang nyaman antara satu sama lain. Tiba-tiba perut indah berbunyi nyaring membuat dia merona hebat karena ketahuan menahan lapar.
“Krruukkk … krukk ..  ”
Kakak kelasnya menatap indah dengan senyum menahan geli.
“Kamu lapar?”
“I .. iya kak.” Indah menjawab takut2 dan tak berani melihat kakak kelasnya itu.
“Nih ada cokelat, makan saja.”
“Makasih ka” indah menerima cokelat iru dengan perasaan gembira tapi malu.
“Oh ya ngomong2 kita belum berkenalan, namaku adi, kau?”
Indah menampilkan senyum manisnya “Indah ka”
“Hem pantas.”
“Pantas?”
“Pantas kau indah seindah namamu.”
Blussshh ..
Indah hanya diam. Lalu keheningan mengisi lagi diantara mereka berdua. Tapi sebenarnya dalam hati mereka masing2 sangat bahagia dengan keheningan dan hujan ini. Ternyata tidak buruk akan datangnya hujan dan sebuah cokelat untuk perkenalan pikir indah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s